smysl.com.ua
smysl.com.ua
europebanking.net
europebanking.net
Home » Blog » Melatih Sholat Anak Sejak Dini
Sunday, January 20th 2013. Posted in Uncategorized

Shalat Anak

Melatih Anak Sholat Sejak Dini

 

Aisyah, bayi berumur 1,5 tahun itu sudah pandai berlari-larian. Lucunya, setiap melihat ibu dan kakaknya shalat berjama’ah, Aisyah selalu ribut minta dipakaikan mukena seperti kakak-kakaknya. Lalu, dengan penuh semangat dia segera mengambil posisi di sebelah ibunya dan mulai bertakbir sambil menirukan semua gerak-gerik ibu dan kakak-kakaknya. Sekalipun posisi sujudnya masih dengan pantat dan lutut sama-sama menungging, tapi Aisyah merasa dia sudah melakukan gerakan yang benar. Dan, Aisyah mungil tak pernah melewatkan saat-saat shalat bersama keluarganya.
Apa yang terbetik dalam pikiran Anda ketika melihat seorang ibu melatih anak sholat sejak usia mereka masih balita (di bawah 5 tahun)? Sebagian mungkin akan berkomentar: Apa tidak terlalu kecil? Mereka kan belum baligh, jadi kan nggak wajib toh? Sebagian yang lain mungkin tertarik dan ta’jub, kok bisa anak-anak masih balita kok sudah demen sholat, ya?, begitu mungkin komentarnya. Jadi pertanyaannya adalah apakah perlu Melatih Anak Sholat Sejak Dini ?.
Mengukir Mutiara Nan Indah

Melatih Anak Sholat Sejak Dini seperti apa yang dilakukan anak seperti Aisyah, tak lepas dari peran orangtuanya dalam memberikan keteladanan dan menanamkan kebiasaan yang baik sejak usia Aisyah masih dini. Bahkan, mungkin ibu Aisyah sudah biasa mengajaknya ikut serta shalat sejak Aisyah masih dalam buaian.
Sebagian orang mungkin menganggap aneh ada seorang ibu shalat sambil menggendong bayi. Sesekali bayinya diangkat saat menangis, dan sesekali bayinya diletakkan di sajadah di samping sang ibu. Kebanyakan para ibu justru suka menitipkan bayinya pada orang lain saat hendak shalat. Dan tak jarang ada ibu-ibu yang nggak sempat shalat karena bayinya rewel terus dan nggak ada orang yang bisa dititipi bayinya. Nah, lho!
Sesungguhnya setiap orangtua akan termotivasi melatih anaknya sholat dengan baik, bila mereka mengetahui filosofi pendidikan anak. Rasulullah saw menegaskan bahwa pendidikan merupakan pemberian terbaik dari orangtuanya. At Tirmidzy meriwayatkan sebuah hadits Rasululllah saw yang artinya: Tidak ada pemberian orangtua kepada anak yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.
Imam Al-Ghazali berkata, Anak itu amanah Allah bagi kedua orangtuanya, hatinya bersih bagaikan mutiara yang indah bersahaja, bersih dari setiap lukisan dan gambar. Ia menerima setiap yang dilukiskan, cenderung ke arah apa saja yang diarahkan kepadanya. Jika ia dibiasakan belajar dengan baik ia akan tumbuh menjadi baik, beruntung di dunia dan di akhirat. Kedua orangtuanya, semua gurunya, pengajar dan pendidiknya sama-sama mendapat pahala. Dan jika ia dibiasakan melakukan keburukan dan diabaikan sebagaimana mengabaikan hewan, ia akan celaka dan rusak, dan dosanya menimpa pengasuh dan orang tuanya.
Pendidikan Sejak Kecil, Penting!
Anak usia dini (0-6 tahun) adalah seseorang yang belum baligh dan belum mempunyai beban taklif, yaitu belum dibebankan untuk melaksanakan hukum-hukum syara’ baik yang terkait dengan ibadah, muamalah, akhlaq, dan lain-lain. Namun tidak berarti pendidikan baru diberikan kepada anak pada saat usia baligh. Rasulullah saw telah menuntun kita untuk memulai pendidikan sejak dini, sebagaimana sabda Rasulullah saw: uthlubul’ilma minalmahdi ilallakhdi, artinya: Tuntulah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat
Banyak ucapan atau pendapat para ulama yang mengisyaratkan pentingnya menuntut ilmu pada waktu kecil. Al-Hasan bin Ali bertutur: Menuntut ilmu pada waktu kecil ibarat mengukir di atas batu. Beliau juga berkata kepada putra dan kemenakannya, Pelajarilah ilmu, sesungguhnya jika kalian menjadi pemuda suatu kaum, besok kalian menjadi pemuka mereka. ‘Ursah bin Az-Zubair berkata kepada putranya, Kemarilah dan belajarlah dariku. Kelak kamu akan menjadi pemimpin suatu kaum.
Ibadah shalat merupakan rukun Islam yang kedua yang harus dilaksanakan oleh setiap umat manusia. Tetapi tidak sedikit umat Islam yang lalai melaksanakan kewajiban ini. Karena itu dibutuhkan suatu metode terutama bagi anak-anak agar mereka rajin dan giat dalam melaksanakan ibadah shalat. Melatih dan memotivasi anak melaksanakan shalat sejak usia dini bukan karena anak telah wajib melakukannya tapi dalam rangka mempersiapkan dan membiasakan untuk menyambut masa pembebanan kewajiban ketika ia telah baligh nantinya.

Melatih anak shalat sejak dini, diharapkan dapat membentuk kebiasaan bagi anak. Dengan demikian, pelaksanaan kewajiban nantinya akan terasa mudah dan ringan, disamping juga sudah memiliki kesiapan yang matang dalam mengarungi kehidupan dengan penuh keyakinan. Melatih anak melakukan sholat karena Allah akan memberikan pengaruh mengagumkan pada jiwa anak, karena akan menjadikan anak selalu berhubungan dengan Allah SWT.

Tahapan Melatih Anak Sholat
Pembinaan ibadah sholat bagi anak-anak dilakukan dengan beberapa tahap. Pada tahap pertama yaitu tahap anak berusia kurang dari enam tahun atau disebut juga tahap usia dini, orang tua hendaknya mulai memberikan pengertian kewajiban melaksanakan shalat. Di usia batita (di bawah 3 tahun) seperti Rizky, barangkali orangtua hanya berusaha untuk mengajak serta saja tanpa perlu memaksa.
Anak mulai bisa diperintahkan melaksanakan sholat ketika dia sudah bisa membedakan antara tangan kanan dan kirinya. Hal ini berlandaskan pada hadist yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari Abdullah bin Hubaib r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda Apabila seorang anak telah tahu (membedakan) tangan kanan dan kirinya, maka perintahkanlah dia melak-sanakan shalat. Anak yang mendapatkan stimulasi perkembangan dengan baik, tentunya akan lebih cepat pula membedakan tangan kiri dan tangan kanannya sehingga lebih cepat pula dapat memerintahkan dia untuk melaksanakan shalat.
Setelah anak tahu kewajiban melaksanakan sholat, maka barulah orangtua sebagai pendidik yang paling utama, mulai mengajarkan kepada anak yang berkaitan dengan sholat. Rasulullah memberikan batasan usia tujuh tahun sebagai awal yang paling baik bagi anak untuk diajarkan masalah yang terkait dengan sholat seperti syarat sahnya sholat, rukun dan yang membatalkan sholat, dan ini disebut juga sebagai tahap kedua yaitu tahap anak berusia prabaligh.
Rasulullah Shalallahu’alahi wassalam telah memerintahkan setiap orang tua agar melatih anaknya shalat ketika berumur tujuh tahun, dan memukulnya bila ia enggan sholat ketika sepuluh tahun.

 

“Pukullah anak-anakmu karena meninggalkan sholat pada usia sepuluh tahun….” (HR Ibnus Sunni dalam Awwalul Yaumi wal-Lail).

Sejak dini, anak harus diperkenalkan dengan sholat. Demikian halnya dengan pembiasaan berdoa. Orang tua harus terlibat aktif dalam melatih anak rajin shalat dan berdoa, agar mentalitas anak terbentuk dengan kuat secara spiritual.
Tips Melatih Anak Sholat Sejak Usia Dini 

 

Karena pembelajaran sholat untuk anak usia dini adalah dalam rangka pembiasaan, anda bisa menyediakan sajadah anak yang disukainya agar si anak merasa nyaman, bukan karena kewajiban, maka orang tua dapat melatih anak dengan cara-cara berikut ini :

 

1.Teladan

Memberikan keteladanan dengan cara mengajak anak melaksanakan shalat berjamaah di rumah. Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak adalah orang tuanya. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan agar orang tua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh anak adalah gerakan-gerakan shalat.

 

2. Melatih Sholat berulang-ulang

Melatih gerakan dan bacaan sholat pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan cara berulang-ulang  Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat, apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang maka anak usia dini semakin mampu melakukannya. Begitu juga dengan bacaan sholat. Semakin sering di dengar oleh anak, maka semakin cepat anak hafal bacaan shalat tersebut.

 

3. Suasana nyaman dan Aman.

Menghadirkan suasana belajar sholat yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak dalam menerima seluruh proses pendidikan shalat yang diselenggarakan saat anak usia dini mengikuti gerakan orang tua dalam sholat, pada tahap awal terkadang bisa mengganggu kekhusukan shalat orang tua.

 

Orang tua harus dapat memahami bahwa tindakan anak meniru gerakan orang tua adalah proses belajar, sehingga sekalipun anak dapat mengganggu kekhusukan sholat orang tua, anak tidak boleh dimarahi atau dilarang dekat dengan orang tua saat sholat. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung.

 

Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan sholat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya.

 

4. Tidak Memaksa tapi Tegas Beri Arahan dengan Lemah Lembut.

Tidak melakukan pemaksaan dalam melatih anak usia dini melakukan sholat. Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan sholat  adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan.

 

Kemudian, dengan kemampuan ini, anak dapat mencapai tahapan kemampuan baru yaitu dapat melakukan gerakan shalat sekalipun belum berurutan. Pemaksaan latihan kepada anak sebelum mencapai kematangan akan mengakibatkan kegagalan atau setidaknya ketidakoptimalan hasil. Anak seolah-olah mengalami kemajuan, padahal itu merupakan kemajuan yang semu. Disamping itu, latihan yang gagal dapat menimbulkan kekecewaan pada anak atau rasa ”tidak suka” pada kegiatan yang dilatihkan. Dengan demikian, saat anak usia dini tidak bersedia diajak shalat bersama, maka orang tua tidak harus memaksakan anak.

 

5. Jangan membanding-bandingkan

Secara fisik, semakin bertambah usia anak maka semakin mampu melakukan gerakan – gerakan motorik dari yang sederhana sampai yang komplek. Namun perlu diperhatikan adanya keunikan setiap anak. Bisa jadi tahapan perkembangan gerakan motorik antara anak pertama lebih cepat dibandingkan anak kedua.

 

Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan seseorang, dan tidak membanding-bandingkan dengan sang kakak atau anak yang lain yang seusia dengan anak. Bisa jadi sang anak lebih cepat bisa mencontoh gerakan shalat dibandingkan dengan sang adik.

Dalam kondisi ini orang tua tidak boleh langsung menilai bahwa sang adik tidak pintar seperti sang kakak. Setiap anak harus mendapatkan perhatian dari orang tua hingga muncul penghargaan atas diri anak dan antar sesama anak.

Sumber Tips diatas dari Majalah Female Reader Edisi I/Vol III  )